Makanan Khas Jogja Sederhana Tapi Enaknya Kebangetan

Nasi Kucing

Orang Jawa lebih sering menyebutnya sego kucing. Kuliner yang berasal dari Jogja ini cukup fenomenal di Indonesia. Biasanya, diperdagangkan oleh para pemilik angkringan. Karena namanya nasi kucing, tentu porsinya menyesuaikan makanan hewan tersebut. Dengan nasi yang sedikit bersama lauk-lauk sederhana, seperti kering tempe, telur, ikan, ayam dan sambal.

Sehingga, terkadang pembeli tidak akan puas bila hanya menyantap satu bungkus saja. Walaupun tampak sederhana, namun rasanya mampu membikin ketagihan. Apalagi, harga dari sego kucing sendiri termasuk murah, yaitu Rp3.000-5.000,-.

Brongkos

Santapan ini berupa sayur yang terbuat dari kacang tolo, telur, tahu dan koyor dengan kuah berwarna hitam. Nuansa kaldunya diperoleh dari santan yang diberi kluwak. Rasa yang dihadirkan adalah gurih, tapi sedikit pedas karena selama dimasak bumbu cabai rawitnya dibiarkan utuh. Selain nasi hangat, biasanya brongkos didampingi lauk tambahan, seperti perkedel, tempe goreng, peyek dan kerupuk karak.

Di Jogja sendiri, terdapat banyak rumah makan yang menyediakan brongkos. Namun, yang pertama berdiri, yakni pada tahun 1973 ialah Warung Makan Bu Rini di Kampung Taman, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton.

Sate Klatak

Hidangan ini kerap diburu oleh para wisatawan karena selain memiliki tampilan yang unik, rasanya pun bisa membuat ketagihan. Padahal, sebenarnya sate klatak hanyalah potongan daging kambing yang diberi bumbu rempah sederhana, seperti garam serta ketumbar dan ditusuk menggunakan jari-jari roda sepeda. Berbeda dengan sate biasa yang tusukkannya berupa lidi.

Benda tersebut dipilih karena mampu menghantarkan panas dengan baik. Sehingga, ketika proses pembakaran, bagian dalam daging dapat matang dengan sempurna. Makanan itu lebih enak disantap bersama nasi, kecap atau kuah gulai dan potongan cabai rawit. Kalau ingin mencicipinya, silakan datang ke Warung Sate Klatak Pak Pong yang terletak di Pasar Jejeran, Jalan Imogiri Timur.

Mangut Lele

Seperti namanya, sajian ini berbahan baku ikan lele yang diberi mangut, yaitu racikan bumbu dari berbagai rempah khas Jawa. Seperti, bawang putih, bawang merah, cabai, lengkuas, kunyit serta jahe. Lelenya sendiri tidak digoreng, melainkan dibakar dengan bilah-bilah bambu. Sehingga, akan mengeluarkan aroma yang sedap.

Warung Mangut Lele Mbah Marto adalah salah satu lokasi yang menyajikannya. Hidangan di sana memang terkenal sangat lezat. Apalagi, setiap pelanggan datang, Mbah Marto selalu menyambutnya dengan ramah dan akrab.

Belalang Goreng

Camilan tersebut sering dibawa pulang sebagai oleh-oleh, terutama bagi orang yang menyukainya atau penasaran dengan rasanya. Makanan khas Gunungkidul, Yogyakarta ini menggunakan belalang kayu sebagai bahan utamanya. Sebab, sangat mudah ditemukan di daerah itu dan biasanya ada di semak-semak atau hinggap pada dahan pohon jati.

Menurut beberapa orang, setelah digoreng rasa dagingnya seperti udang. Memiliki tekstur yang gurih dan renyah, sehingga cocok dijadikan makanan ringan. Apalagi, telah dibumbui bawang putih, garam, ketumbar dan aneka rempah lain, semakin membuat kelezatan rasanya terasa. Sangat baik dikonsumsi karena serangga ini mengandung protein yang tinggi.

Anda bisa menemukan penjual belalang goreng di pinggir jalan, toko oleh-oleh atau langsung datang ke tempat produksinya di Gunungkidul.

Mie Lethek

Bagi penyuka olahan mie wajib mencoba hidangan yang satu ini apabila berkunjung ke Kota Pelajar. Namanya mie lethek, sajian yang diproduksi oleh masyarakat Bantul, tepatnya di daerah Srandakan. Mienya sendiri terbuat dari tepung tapioka dan gaplek. Bisa dimasak sebagai mie rebus ataupun mie goreng.

Dilihat dari tampilannya memang kurang menarik, apalagi memiliki warna yang kotor. Itu menjadi alasan kenapa dinamakan “lethek”. Tapi, dihasilkan secara alami, bukan melalui pewarna makanan atau bahan kimia. Meskipun demikian, dari segi rasa hidangan tersebut bisa dibilang juara. Telur bebek atau telur ayam kampung, aneka sayuran dan suwiran daging ayam juga turut menambah kelezatannya.