Kisah Perjalanan Si Pemburu Rendang
KOMPAS.com – Setelah diakui sebagai makanan paling lezat di dunia, popularitas rendang di tanah air semakin meningkat. Ketenaran rendang tak hanya di tanah kelahirannya, Minang, saja, tetapi juga di pelosok nusantara dan dunia.

"Citarasa yang nikmat, sedikit pedas, dan full rempah membuat rendang banyak disukai masyarakat," tukas Reno Andam Sari, pemilik usaha Rendang Uni Farah kepada Kompas Female, di Gramedia Grand Indonesia, Jakarta, Jumat (8/6/2012) lalu.

Meski rendang kini sudah mendunia, dalam pengamatan Reno belum ada yang satu pun buku yang mengulik asal-usul rendang. "Ketika bicara buku tentang rendang, pasti semuanya adalah buku resep. Padahal rendang itu bukan sekadar resep masakan, tetapi juga merupakan salah satu warisan budaya yang sarat makna sosial budaya," paparnya.

Berangkat dari rasa penasarannya mengenai rendang, Reno pun bertekad untuk menelusuri asal-usul rendang langsung dari tempat kelahirannya, Sumatera Barat. Perjalanannya selama satu bulan menyusuri seluruh pelosok Sumatera Barat menghasilkan temuan beragam jenis rendang tradisional. Dari situ ia melakukan inventarisasi rendang yang tersebar di Sumatera Barat, dari Painan, Padang, Pariaman, Batusangkar, Bukittinggi, sampai Payakumbuh. Hasil penelusurannya tersebut lalu dirangkumnya dalam sebuah buku berjudul Rendang Traveler.

Dalam buku ini Reno menceritakan sekitar 15 jenis rendang tradisional, misalnya rendang daun kayu, rendang tumbuk, rendang belut, rendang runtiah, rendang lokan, sampai bareh randang. Bahkan ia juga menemukan rendang sapuluik itam yang terbuat dari tepung ketan hitam yang dimasak dengan tambahan bumbu rendang.

"Saya pikir awalnya rasanya manis, tapi ternyata tidak dan justru mirip seperti rasa rendang hati. Dan rendang jenis ini cocok sekali sebagai rendang vegetarian," tukasnya.

Selain membahas jenis-jenis rendang di ranah Minang, Reno juga menggali sisi sosial budaya di balik rumitnya proses pembuatan rendang. Dari kerja keras para pemetik kelapa untuk membuat santan, ibu-ibu penghalus lado (cabe) di pasar, pelengkap makan rendang, sampai cerita rendang tradisional yang menjadi salah satu makanan utama, atau menjadi "raja makanan" dalam suatu pesta adat.

Meski buku ini menyingkap bertuahnya rendang Minang, dan banyak bercerita tentang perjalanan Reno untuk mengulik beragam jenis rendang, namun jangan pikir buku ini terkesan seperti buku ilmiah. Buku ini justru ditulis dengan gaya bahasa bertutur yang cair.

"Ini tidak hanya sebuah buku kuliner, tapi juga merupakan buku yang bercerita tentang kehidupan sosial budaya rendang yang belum banyak diketahui orang," tukasnya.

Serunya, buku ini juga menghadirkan banyak foto kuliner, serta dokumentasi perjalanan Reno di Sumatera Barat untuk berburu rendang. "Karena buku ini baru menampilkan 15 jenis rendang, ada kemungkinan akan ada buku lanjutannya. Setelah buku ini terbit, ternyata ada banyak orang yang menghubungi saya dan memberitahu jenis rendang unik lainnya," pungkas Reno.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *