Cara Tepat Memasak dengan Minyak Zaitun
KOMPAS.com Minyak zaitun mengandung nutrisi tinggi, utamanya omega-9, sehingga kerap dipilih menggantikan minyak goreng untuk memasak aneka makanan. Namun, tak semua makanan bisa dimasak menggunakan minyak zaitun. Jika salah pemakaian saat memasak, Anda akan kehilangan nutrisi minyak zaitun pada masakan.

Chef Gourmet Kemang, Chef Akbar, menjelaskan penggunaan minyak zaitun lebih tepat untuk memasak aneka tumisan karena waktu untuk menumis tak lama. Memasak terlalu lama dengan minyak zaitun menyebabkan minyak rusak dan kehilangan nutrisinya karena terlalu panas.

"Saat minyak terlalu panas, tandanya api naik, mulai berasap, saat inilah minyak pecah. Jika minyak zaitun dipakai memasak dengan cara ini, nutrisinya akan hilang. Karena itu, minyak zaitun cocok untuk menumis, bukan untuk menggoreng ayam misalnya. Selain mahal karena akan memakai minyak dalam jumlah banyak, nutrisi minyak zaitun akan menghilang jika dipakai menggoreng dengan suhu terlalu panas," ungkapnya saat berbuka puasa bersama di Gourmet Kemang, Jakarta, Selasa (16/7/2013).

Yang juga perlu diperhatikan saat memasak dengan minyak zaitun adalah jenis masakannya. Chef Akbar mengatakan, minyak zaitun kurang tepat jika digunakan untuk makanan tradisional Indonesia. Seperti nasi goreng Jawa, ayam goreng, rendang, ayam kecap misalnya. Namun masih bisa untuk memasak ceplok telur yang tak membutuhkan banyak minyak serta dimasak dalam waktu singkat.

"Memasak nasi goreng dengan minyak zaitun masih bisa tapi nasi goreng putih bukan nasi goreng Jawa yang menggunakan banyak bumbu dan membutuhkan waktu lebih lama untuk memasaknya," jelasnya.

Selain aneka tumisan, minyak zaitun juga bisa dipakai untuk memasak makanan saos bening atau encer. Lebih sehat lagi jika minyak zaitun dikonsumsi mentah.

"Bisa saja dipakai untuk ayam goreng, tapi bukan untuk menggorengnya,melainkan untuk menyiram ayam goreng yang sudah matang. Minyak zaitun aman dikonsumsi dalam kondisi mentah, justru nutrisinya lebih terserap," tutupnya.

Cara Memilih Buku Resep Memasak
KOMPAS.com – Anda bingung memilih buku resep memasak yang melimpah di pasaran? Meski setiap buku sepertinya terlihat serupa. Menjual resep aneka makanan, lengkap dengan foto yang memancing selera. Agar merasa lebih puas dan tak menyesal memilih buku resep, simak triknya:

1. Resep plus teknik
Buku resep yang lengkap berisi resep, cara memasak dan teknik memasak yang baik. Jika Anda menemukan semua hal ini, satu poin terpenuhi.

2. Praktis
Pilih buku resep yang mudah dipahami oleh Anda. Mulai bahasanya yang sederhana, hingga resep yang praktis dengan bahan masakan yang mudah ditemui, metode yang mudah dan tak butuh waktu lama untuk memasaknya. Tentu saja, pilihan kepraktisan ini tergantung dari kebutuhan Anda. Untuk memasak hidangan keluarga yang praktis atau untuk keperluan lain. Buku resep yang praktis juga memuat indeks resep. Indeks ini memudahkan Anda mencari resep yang digemari saat akan memasak hidangan.

3. Sesuai selera
Pilih buku resep yang berisi masakan yang digemari atau setidaknya tidak asing. Bacalah resep masakan yang dituliskan dalam buku, apakah kombinasi rasa masih bisa diterima lidah Anda dan keluarga. Jika tidak, percuma saja membeli buku resep jika Anda tak pernah menggunakannya.

4. Hidangan menyehatkan
Pilih buku resep yang memuat informasi nutrisi dari setiap masakan. Dengan begitu Anda bisa menakar asupan kalori, lemak, serat yang terkandung dalam setiap resep. Makanan sehat juga bisa dilihat dari bahan makanan. Cermati lagi, apakah bahan makanan yang tertulis dalam resep didominasi bahan makanan segar atau tidak. Pilihan ini tentunya kembali kepada selera dan kebutuhan Anda. Meski, rasanya setiap orang tentunya menginginkan makanan sehat yang tersaji di rumah.

5. Berkualitas
Kualitas buku resep bukan hanya terlihat dari sampul saja. Anda juga perlu mencermari penulis buku atau penerbitnya. Jika penulisnya adalah pakar nutrisi atau memang ahli di bidang kuliner, tentu resep yang ditawarkan terjamin kualitasnya.

6. Bonus
Bonus bukan sekadar berupa gimmik yang tak ada kaitannya dengan resep atau kuliner. Bonus informasi tambahan seperti teknik menggunakan alat masak juga bisa menjadi pertimbangan memilih buku resep. Begitu juga dengan buku resep yang memuat informasi kesehatan. Seperti makanan sehat yang sebaiknya dikonsumsi penderita penyakit jantung atau diabetes. Tentu saja bonus informasi ini membantu Anda menyajikan makanan sehat tepat untuk keluarga.

Cara Diet Turunkan Kolesterol dan Asam Urat
Tanya:
Saya perempuan usia 21 tahun dengan BB 64 kg TB 163 cm, seingat saya asam urat saya 6,4 dan kolestrol saya 215. Olah raga saya skipping tapi jarang sekali. Saya mahasiswa, sebagian besar kegiatan saya duduk dan berjalan. Bagaimana cara berdiet dan menurunkan kolesterol dan asam urat? Terima kasih
Putri, 21, Surabaya

Jawab:
Terima kasih kembali pertanyaannya.

Dari data laboratorium yang ananda berikan, memang asam urat dan kolesterol total memiliki nilai yang agak tinggi. Adapun kerugian dari asam urat yang tinggi dapat menimbulkan penyakit gout maupun terjadinya batu urat di ginjal. Demikian juga dengan kadar kolesterol yang tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner akibat terbentuknya plak di pembuluh darah.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menurunkan kadar asam urat maupun kolesterol total yang agak tinggi, antara lain :

* Diet turunkan kadar asam urat
Asam urat merupakan hasil dari pemecahan purin yang  didapat baik dari makanan maupun dari tubuh sendiri yang memproduksinya. Diet rendah asam urat bertujuan untuk mengendalikan produksi asam urat dalam tubuh dan membantu meningkatkan pengeluaran asam urat dari tubuh. Dalam makanan sehari-hari, jumlah purin yang  dikonsumsi sekitar 600-1.000 mg/hari. Diet rendah purin hanya memperbolehkan seseorang mengonsumsi bahan makanan yang mengandung sekitar 100-150 mg purin/hari.

Hindari mengonsumsi bahan makanan yang mengandung tinggi purin (sekitar 100-1.000 mg purin/100 g bahan makanan) seperti : daging merah, jeroan, roti manis, unggas, daging rusa,  seafood (remis, kepah, kepiting, udang, lobster, scallop, ikan-ikan kecil termasuk ikan teri, hering, makarel, sarden).

Batasi konsumsi (masih boleh dikonsumsi, tetapi dalam jumlah terbatas sekitar 1-2 porsi/hari) bahan makanan yang mengandung purin dalam jumlah sedang (sekitar 9-100 mg purin/100 g bahan makanan) seperti jamur, asparagus, kembang kol, kacang-kacangan, kacang kedelai, pisang, nangka, bayam, jagung manis, tauge, buah yang dikeringkan, dan lain-lain.

Bahan makanan yang mengandung rendah purin diperbolehkan untuk dikonsumsi antara lain buah-buahan dan sayuran segar kecuali yang disebutkan di atas, susu, keju, telur, cereal, pasta, mie, nasi, kopi, cokelat, dan lainnya.

Kurangi konsumsi lemak jenuh karena lemak jenuh akan menurunkan kemampuan tubuh mengeluarkan asam urat. Batasi alkohol, bir, ragi, dan minum air putih dalam jumlah cukup karena akan membantu mengeluarkan asam urat dari tubuh.

* Diet turunkan kolesterol
Kolesterol merupakan bahan seperti lemak yang ada dalam darah. Kolesterol yang berada dalam darah berasal dari tubuh yang mensintesis dan juga dari makanan. Oleh karena itu, anjuran kolesterol sekitar kurang 200 mg/hari bagi mereka yang memiliki kadar kolesterol darah yang tinggi. Adapun bahan makanan yang kaya kolesterol seperti :

Kuning telur 210 mg/butir
Cavier 94 mg/satu sendok makan
Hati 564 mg/100 gr
Kerang 105 mg/100 gr
Mentega 215 mg/100 gr
Udang 260 mg/100 gr
Cumi 260 mg/100 gr
Fast food 235 mg/100 gr

* Olahraga sebaiknya dilakukan secara teratur dan terukur sebanyak 3-4x seminggu.

* Gaya hidup sehat termasuk mempertahankan berat badan dalam nilai yang ideal. Jika dihitung IMT (indeks massa tubuh) ananda sekitar 24,1, berarti masuk dalam kategori overweight (kelebihan berat badan). Oleh karena itu, ananda usahakan turunkan berat badan hingga mencapai berat badan ideal sekitar 57 kg.

Butik Kuliner Nusantara Hadirkan Makanan Khas Sulawesi
MAKASSAR, KOMPAS.com – PT Heinz ABC Indonesia menggelar Butik Kuliner Nusantara di Kota Makassar yang bertempat di Hotel Clarion, Rabu (27/3/2013). Dalam demo masak yang dilakukan oleh para chef terkenal di Indonesia itu dibeberkan berbagai resep masakan khas daerah Sulawesi.

Selama acara butik kuliner yang disponsori Heinz ABC menggandeng ICA (Indonesian Chef Association), hadir para pakar kuliner dan penjaja makanan tradisional dari berbagai daerah. Turut juga hadir siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan tataboga dengan didampingi gurunya.

Sambil memasak, para chef berdiskusi dengan peserta terutama siswa SMK tataboga. Usai memasak, satu per satu jenis makanan khas Sulawesi yang kaya rempah-rempah itu disajikan kepada peserta untuk dinikmati.

"Kita semua wajib mencintai dan melestarikan kuliner nusantara agar tetap eksis. Melalui program ini kami ingin mengangkat kembali pesona khas racikan berbagai hidangan tradisional dari berbagai daerah agar dikenal secara luas. Kami berharap acara ini dapat menginspirasi masyarakat dalam menyajikan hidangan tradisional yang menggugah selera," tutur Wishnu Pramuji, Sales Director PT Heinz ABC Indonesia.

Digelarnya Butik Kuliner Nusantara, lanjut Wishnu, tak lepas dari salah satu misi sosial Heinz ABC untuk ikut melestarikan kekayaan hidangan tradisional khas nusantara, dimana Heinz ABC menggandeng ICA (Indonesian Chef Association), para pakar kuliner dan dan penjaja makanan tradisional dari berbagai daerah.

"Melalui tangan-tangan piawai para chef dan jawara masak-memasak yang kreatif, kami berharap program ini dapat menjadi ajang temu para juru masak andal sehingga pesona kuliner nusantara dapat tersosialisasikan dengan baik di dalam maupun di luar negeri," jelas Wishnu.

Sementara itu, Marketing Manager Food Service PT Heinz ABC Indonesia, Yanuardi Sobara mengatakan, sebelum digelar di Makassar, pada Januari 2013 hal serupa digelar di Bali. "Kami sengaja memilih Makassar sebagai ajang penyelenggaraan BKN, karena kota ini menjadi pintu gerbang wilayah Indonesia bagian timur dan sekaligus sebagai etalase kuliner Pulau Sulawesi," tuturnya.

Dalam butik kuliner tersebut, para chef memasak makanan khas 6 provinsi di Sulawesi yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Sulawesi Barat.

Aneka hidangan tradisional khas Sulawesi yang kini banyak disukai masyarakat luas karena kelezatan cita rasanya adalah Tinutuan atau Bubur Manado dan Klappertaart khas Kawanua, Kaledo khas Palu, Binte Biluhuta khas Gorontalo, Pa Piong Sola Bo Bo khas Tana Toraja, Kapussu Nussu khas Buton, Sinonggi khas Kolaka, Sup Ubi khas Kendari, dan Coto, Sop Saudara, Mie Titi serta Sop Konro khas Makassar.

Bumbu-bumbu dan Tradisi Baru
PERDAGANGAN maritim tidak hanya menempatkan Bugis-Makassar sebagai pemain penting, tetapi juga mengubah sebagian lanskap tradisi makan mereka. Lewat perdagangan, orang Bugis-Makassar, misalnya, mengenal bumbu-bumbu baru seperti cabai dan tomat yang dibawa orang Portugis dan Spanyol awal abad ke-17.

Menurut Penny Van Esterik dalam Food Culture in Southeast Asia (2008), saat itu cabai yang ditemukan Colombus di Benua Amerika diperkenalkan ke Asia Tenggara. Tujuannya untuk menggantikan rasa pedas merica yang ketika itu harganya sangat mahal. Ternyata, tanaman asal Amerika Tengah itu tumbuh subur di Asia Tenggara. Cabai pun dengan cepat menggantikan merica sebagai sumber rasa pedas. Itulah sebabnya, orang menyebut masuknya cabai menggantikan lada sebagai Columbian exchange.

Pedas cabai dan asam menjadi semacam cita rasa dasar hampir semua masakan (lauk) Bugis-Makassar. Namun, rasa asam pada masakan mereka umumnya dihasilkan dari jeruk nipis, bukan tomat. Cita rasa pedas dan asam itu membalut bahan makanan yang umumnya dimasak dengan teknik sederhana, yakni dibakar, dipanggang, digoreng, dan direbus bersama bumbu.

Mari kita lihat bagaimana ibu-ibu di Labakkang, Pangkep, mengolah ikan bolu atau bandeng. Ikan segar yang baru ditangkap dari tambak dibersihkan dan dilumuri garam kasar. Lantas, ikan dibakar begitu saja. Setelah masak, ikan bakar dimakan dengan sambal tomat dan sambal kacang. Meskipun sederhana, percayalah, rasa masakan itu benar-benar nikmat. Sampai-sampai menyantap dua ekor bolu bakar ukuran 30-an sentimeter rasanya masih kurang.

Selain memperkenalkan bumbu-bumbu, perdagangan juga menjadi perantara masuknya Islam ke Sulawesi Selatan pada abad ke-16. Setelah melalui proses yang cukup alot, Islam diterima sebagai agama resmi kerajaan. Dalam waktu singkat, orang Bugis-Makassar menjadi salah satu penganut Islam paling teguh meski kepercayaan lama tidak hilang begitu saja.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO Para penari Paduppa menebarkan beras saat menyambut para tamu dalam sebuah pesta pernikahan di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Filolog yang menjabat sebagai Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Kearsipan, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Ahmad Saransi mengatakan, seperti yang terjadi juga di daerah-daerah lain di Indonesia, kepercayaan lama dan baru mengalami percampuran. Kita sulit membedakan keduanya karena sudah menyatu, ujar Saransi.

Terlepas dari hal itu, diterimanya Islam sebagai agama resmi mengubah hampir seluruh lanskap budaya Bugis-Makassar termasuk tradisi makan. Sejak masuknya Islam, daging babiyang selama beberapa abad menjadi sumber protein orang Bugis-Makassardisingkirkan. Resep masakan yang mengandung darah binatang, seperti lawa dara, juga ditinggalkan.

Lawa dara terbuat dari irisan daging, jantung, hati binatang buruan yang dicampur cabai, garam, dan jeruk. Hidangan itu dimakan mentah-mentah dengan saus darah. Masakan ini dulunya jadi favorit para pemburu. Pelaut asing James Brooke tahun 1840 mencatat, ke mana pun orang Bugis-Makassar berburu, mereka selalu membawa cabai, garam, dan jeruk agar setiap saat bisa membuat lawa dara.

Menu itu tidak benar-benar hilang, tetapi mengalami penyesuaian dengan ajaran Islam yang mengharamkan darah. Di Warung Makan Kapurung Kasuari, Makassar, kita bisa menemukan lawa terbuat dari ikan mairo (teri) mentah, cabai, garam, jeruk nipis, dan kelapa. Semua bahan mentah dicampur jadi satu dan langsung dimakan. Rasanya pedas, asam, dan gurih. Bau amis ikan tidak terasa lagi karena telah diserap sempurna oleh jeruk nipis.

Ritual masak yang berasal dari masa pra-Islam juga tidak musnah. Sampai sekarang, sebagian juru masak Bugis-Makassar masih menggunakan mantra-mantra masak peninggalan zaman pra-Islam untuk melezatkan atau mencukupkan makanan. Mantra itu antara lain berbunyi: sinru' sinru' sai naninsiru', kaddo' si kaddo' kaddo' tonji, ganna ta ganna sigannakki … sinru' sinru' sai naninsiru', kaddo' si kaddo' kaddo' tonji, ganna ta ganna sigannakki …. Sendok sendoklah saja dengan menyendok/ makan saling menikmati makan makanan itu juga/ cukup atau tidak cukup akan saling mencukupkan.

Orang Bugis-Makassar kemudian menambahkan bismillahirrahmanirrahim di bagian awal, dan kun fa ya kun di bagian akhir. Maka, mantra itu berubah jadi doa yang sesuai ajaran Islam, kata Saransi.

Begitulah, tradisi makan orang Bugis-Makassar terbentuk oleh pertemuan sawah dan laut yang diperantarai sungai. Tradisi makan itu lantas mendapat warna baru dari era perdagangan maritim. Namun, dia tidak berhenti di situ. Tradisi makan terus bergerak seiring dengan perkembangan gaya hidup dan tersedianya bahan makanan baru.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN Nelayan menurunkan ikan hasil tangkapan untuk dijual di Pasar Ikan Paotere di Makassar, Sulawesi Selatan. Makanan berbasis daging sapi seperti coto dan konro sapi sekarang jadi ikon kuliner Bugis-Makassar. Padahal, sampai awal abad ke-20, daging adalah bahan makanan yang hanya disantap di pesta-pesta besar bangsawan. Kalau menengok lebih ke belakang, sampai abad ke-15, sapi belum dikenal di Sulsel. Peternakan sapi baru berkembang abad ke-20 yang bibitnya berasal dari Bali (Reid, 2011).

Seperti masyarakat urban lainnya, orang Bugis-Makassar terutama di Kota Makassar dan sekitarnya telah tiba pada satu titik di mana makan bukan sekadar untuk pemenuhan nutrien, melainkan juga gaya hidup. Nongkrong di warung menjadi kegiatan yang penting. Di sanalah ikatan sosial orang Bugis-Makassar yang hierarkis melonggar, dan gaya hidup yang lebih cair terbentuk. Makanya, orang Bugis-Makassar bilang, demokrasi ada di warung coto. (Budi Suwarna dan Aswin Rizal Harahap)

Bisnis Nugget, Modalnya Rp 150 Ribu Saja
KOMPAS.com – Anindita Damayanti terbilang masih muda saat menikah pada tahun 2003 lalu. Usianya kala itu baru 20 tahun. Kendati demikian, Anin, demikian sapaannya, sudah mantap berkomitmen untuk fokus mengurus keluarga. Ia menghentikan total kegiatannya sebagai mahasiswi jurusan Food and Beverage (kuliner) di Universitas Sahid Jakarta.

Sejak remaja Anin mengaku sudah hobi memasak. Itulah alasan mengapa ia tertarik mengambil jurusan kuliner saat kuliah. Saya sangat gemar mengoleksi buku-buku masakan. Bahkan saya bisa ketiduran jika membaca buku-buku resep masakan, cerita Anin. 

Sebagai seorang ibu yang sangat memerhatikan kebutuhan keluarga, Anin berupaya untuk memberikan yang terbaik  bagi  keluarga, termasuk  soal asupan makanan dan  gizi untuk sang anak. Saat anak pertamanya, Nikkei, masih balita, Anin sempat kebingungan karena Nikkei tidak suka mengonsumsi sayuran.

Setiap  diberi sayuran  pada menu makanannya selalu tidak dimakan, ujar wanita kelahiran Jakarta, 13 Maret 1981 ini.

Menurut Anin, anaknya selalu merasa enek, bahkan muntah, jika diberi sayuran. Padahal sayuran sangat dibutuhkan bagi tumbuh kembang sang anak. Anin melihat Nikkei malah gemar mengonsumsi makanan olahan terutama nugget. 

Anak saya suka sekali makan nugget yang dibeli di supermaket. Sementara saya sangat takut karena tidak mengetahui kandungan bahan  yang digunakan, tutur istri Rendra Toro ini.

Kekhawatiran terhadap produk olahan massal ini bertambah karena Anin melihat  tanggal kedaluarsa yang tertera di kemasan produk jangka waktunya sangat lama. Kedaluarsanya bisa sampai setahun. Mungkinkah jika tanpa pengawet makanan bisa bertahan selama itu? tegas Anin.

Takut anaknya ketagihan dengan makanan berpengawet dan mengandung MSG, Anin pun berusaha mencari solusi. Tanpa pikir panjang, ia mencoba berinovasi dengan membuat nugget sendiri. Nugget yang berbahan dasar daging ayam tersebut ditambahkan dengan berbagai jenis sayuran. Awalnya Anin mencoba memasukkan wortel yang dihancurkan dengan blender sebagai bahan campuran nugget. Karena memang bakat dalam urusan dapur, nugget buatannya langsung disukai seluruh keluarga, termasuk anaknya yang memang gemar makan nugget.  Hal ini tentu membuat Anin jadi tambah semangat berinovasi agar Nikkei gemar makan sayur.  Agar tidak bosan, Anin lantas mencoba berkreasi dengan membuat nugget bayam dan brokoli.

Sebagai mahasiswi kuliner, Anin sangat paham dengan kandungan dan nutrisi yang terdapat dalam sayuran-sayuran pilihannya. Ditambah lagi sang mertua, yang juga seorang peneliti di bidang kesehatan, turut memberi masukan pada eksperimen nugget yang dibuatnya. Anin menjelaskan, pada wortel ada kandungan beta karoten yang bermanfaat untuk menangkal radikal bebas. Sementara brokoli mengandung nutrisi  yang sangat baik bagi penderita penyakit jantung.

Untuk bayam, saya lebih memilih jenis bayam merah karena lebih kaya antioksidan ketimbang bayam hijau, jelas Anin semangat.

Jualan di sekolah
Suatu hari  seorang teman berkunjung ke rumah Anin. Kebetulan saat itu Anin baru saja selesai membuat nugget sayuran  sebagai santapan makan siang keluarga. Sang teman pun turut mencoba nugget unik buatan Anin. Seperti kebanyakan ibu lainnya, teman Anin ini juga memiliki masalah dengan anaknya yang enggan makan sayur. Setelah mencoba nugget buatan Anin, sang teman langsung semangat minta dibuatkan nugget serupa untuk anaknya di rumah.  Anin lantas diminta temannya untuk menjual nugget sayurnya tersebut. Ide ini langsung Anin sambut baik.

 Untuk awal, saya membuat variasi nugget sayuran dan nugget keju sebanyak 30 bungkus. Saya menjajakannya pada orang tua murid di TK tempat anak saya bersekolah, ujarnya.

Tak disangka, ternyata nugget yang dijual Anin ludes terjual. Para orang tua murid rupanya penasaran dengan rasa nugget tersebut.  Keesokan harinya, telepon Anin pun berdering-dering karena banyak yang memesan nugget sayuran. Mereka senang karena anak-anak mereka juga suka, ujar Anin tersenyum.

Modal awal yang dibutuhkan  Anin untuk membeli bahan nugget adalah Rp 150 ribu. Uang tersebut untuk membeli bahan utama nugget, yakni daging ayam giling, sayuran (wortel, bayam, dan brokoli), keju, telur, tepung maizena, tepung roti, serta cornflakes. Pembuatan nugget pun sangat sederhana dan mudah. Dengan komposisi yang sesuai dan seimbang, semua bahan dicampur lalu dicetak dalam loyang dan dikukus. Setelah matang, nugget dilumuri dengan tepung roti dan siap dikemas tanpa menggunakan bahan pengawet. Jika disimpan dalam freezer, nugget akan bertahan sampai dua minggu.

Bikin situs dan sistem agen
Lama-kelamaan nugget buatan Anin semakin dikenal. Selain sesama orang tua murid, kerabat  dan teman-temannya yang lain selalu antri memesan.  Melihat peluang ini, Anin pun melakukan promosi lewat internet. Situs www.nuggetku.net78.net dibuat untuk mempromosikan produk nuggetnya yang diberi label Nuggetku tersebut.  Di situs tersebut tertera nomor telepon dan alamat pemesanan nugget.

Sejak situsnya diluncurkan, Anin langsung kebanjiran order. Rata-rata orang penasaran dengan rasa nugget sayuran karena terbilang unik dibandingkan nugget-nugget lain yang dijual di supermarket atau pasar. Soal rasa, Anin mengaku memang tidak mirip dengan nugget buatan pabrik.

Karena dicampur sayuran dan tidak menggunakan MSG, rasanya akan sedikit hambar. Namun kekenyalannya mendekati nugget daging untuh, ujar ibu dua anak ini.

Anin juga sempat mendapat pesanan dari luar pulau Jawa, seperti Makassar dan Papua. Namun kendalanya, jika dikirim ke tempat-tempat yang jauh, saat tiba di tempat si pemesan nugget sudah tidak dalam keadaan beku. Jadi harus langsung disimpan lagi ke freezer agar rasa dan kesegarannya terjaga, jelas Anin. 

Suatu hari seorang teman Anin  mengaku tertarik untuk menjadi agen Nuggetku ini. Anin menyambut baik ide keagenan untuk memperluas jangkauan penjualan. Mekanisme sistem keagenan dilakukan dengan cara membeli putus produk Nuggetku sebanyak 30 bungkus. Untuk konsumen yang membeli secara eceran, Anin mematok harga  Rp 16.500 per bungkus, dengan berat 200 gram dan berisi 10 potong nugget.  Selain lewat pemesanan melalui telepon, nugget Anin juga bisa dijumpai di salah satu toko makanan organik di kawasan BSD, Serpong, Tangerang.

Tanpa asisten
Dalam seminggu paling sedikit Anin menerima order sebanyak 20 bungkus nugget. Seringkali dalam seminggu ia bisa menerima pesanan sejumlah Rp 2 juta. Jika diakumulasikan, sebulan Anin bisa menerima sebanyak Rp 8 juta dengan keuntungan bersih mencapai 40 persen. Untuk memproduksi nugget, biasanya Anin melakukannya di hari Senin dan Kamis.

Jadi  tidak melulu  memproduksi, nanti kasihan anak-anak dan suami kalau saya terlalu sibuk mengurusi produksi nugget, ungkapnya.

Untuk peralatan produksi Anin hanya mengggunakan alat-alat sederhana yang sudah ada di dapurnya, yakni blender, loyang, penggorengan, dan kompor. Pengerjaannya juga dilakukan sendiri tanpa bantuan asisten. Pernah saya merekrut asisten tapi hasil nugget-nya sangat berbeda dengan yang saya inginkan, jelasnya.

Dengan kegiatannya saat ini Anin mengaku cukup puas. Pasalnya ia bisa menyalurkan hobi memasak, sekaligus menghasilkan uang tanpa harus mengabaikan keluarga. Sebelum menjalankan usaha nugget, Anin  juga sempat ingin membuka rumah makan. Niat ini terlintas karena sebagai ibu rumah tangga ia juga ingin punya aktivitas yang berhubungan dengan dunia kuliner atau masak-memasak. Tapi niat itu diurungkan karena  butuh waktu penuh untuk menjalankan bisnis rumah makan. Walau mengaku  pendapatannya dari menjual nugget belum seberapa, Anin sangat bangga.

Paling tidak karya kita sudah diakui dan diminati orang. Selain itu, bisa menghasilkan uang namun tetap memperhatikan keluarga, sudah membuat saya puas, ujarnya bangga.

Kiat Sukses Anin:
Menyukai dan mencintai apa yang kita kerjakan.
Jeli melihat peluang di sekitar.
Selalu membuat inovasi agar produk kita berbeda dari yang lain.
Terus mencoba dan jangan takut gagal.

Alamat Nuggetku
Tlp: 085691894100
Situs: www.nuggetku.com, www.nuggetku.net78.net

(Ira Nursita)

Berwisata ke Pasar Bandeng Gresik
PASAR bandeng, sebuah perayaan rakyat yang mengakar dalam relung jiwa orang-orang Gresik, Jawa Timur, terus berjalan melintasi waktu, tak lekang oleh perubahan zaman. Disimak sampai dekade 70-an, peristiwa kultural yang konon dirintis oleh para pengikut Raden Paku alias Sunan Giri itu tidak banyak mengalami perubahan berarti.

Di festival populer itu, yang berlangsung setiap dua hari menjelang Idul Fitri, para petambak ikan bandeng di wilayah Pantura, seperti Gresik, Tuban, Lamongan dan Sidoarjo, menjual hasil panen ternak bandeng mereka setelah menyiapkannya jauh-jauh hari.

Pada malam hari, saat pasar rakyat itu dilangsungkan, ratusan penjual bandeng menggelar dagangan mereka di sepanjang jalan utama yang sehari-hari menjadi wilayah pusat pertokoan. Ikan bandeng menjadi mata dagangan utama, sementara beragam barang lainnya menjadi pelengkapnya.

Entah karena tradisi yang diciptakan para pengikut salah satu anggota wali songo itu atau karena kelezatan naturalnya, bandeng menjadi ikan yang sangat populer dan digemari orang-orang Gresik. Boleh dibilang setiap Lebaran, menu utama rakyat Gresik adalah bandeng yang diolah dalam segala macam resep masakan.

Yang paling lazim di lidah warga setempat adalah gulai bandeng. Namun istilah gulai ini tak dikenal oleh orang Gresik. Mereka punya nama tersendiri yang otentik, yakni kothok bandeng. Racikan bumbunya ya tak jauh beda dari gulai yang sarat dengan rasa gurih santan.

Menu kedua yang namanya agak membingungkan orang luar Gresik adalah bali bandeng. Bali bandeng tak ada kaitannya dengan Bali yang melahirkan koreografer kondang Ketut Rina dan pelukis kenamaan Ketut Reggeg itu. Masakan bali bandeng setara dengan bandeng dibumbuhi dengan cabe merah sebagai bumbu utama.

Di atas semua menu yang lazim itu, terdapat olahan khas eksotis bernama otak-otak bandeng. Jika anda tinggal di Jakarta dan sekitarnya, anda mungkin membayangkan otak-otak ikan tenggiri, yang dibuat dari campuran tepung dan ikan tenggiri yang dibungkus daun pisang, lalu dibakar.

Otak-otak bandeng sama sekali bukan seperti itu. Ini makanan eksklusif yang terlalu mewah untuk dikonsumsi sehari-hari, terutama bagi rakyat jelata di dasawarsa 70-an ke belakang. Pembuatannya pun butuh kiat khusus dan rasanya terlalu gurih untuk dimakan tanpa nasi.

Begitulah tradisi pasar bandeng menurunkan aneka kuliner khas Gresik.

Pasar bandeng dikemas dengan format yang tak banyak berubah. Selalu ada gairah untuk memelihara bandeng di tambak selama mungkin untuk menghasilkan bandeng terbesar dan bandeng itulah yang akan dilelang pada puncak acara malam pasar bandeng.

Berawal dari Ngeblog,
JAKARTA, KOMPAS.com Blog www.justtryandtaste.com merupakan salah satu blog yang cukup dikenal di kalangan food blogger dan para pehobi masak.

Endang Indriani (42) adalah sosok di balik blog yang telah eksis sejak 2010 itu. Berawal dari ngeblog, kini Endang telah menghasilkan 6 buku resep.

Seperti apa sosok Endang dan apa yang mendorongnya konsisten berbagi resep-resep hasil olahan dapurnya?

Kepada Kompas.com, Senin (25/6/2018), Endang berbagi kisahnya.

Berbagi resep

Ia mengatakan, berbagi resep-resep melalui blog dan buku-buku karyanya merupakan hobi. Tak ada motif ekonomi di balik itu. Semua dilakukan karena kesenangan.

Saya belum serius hendak menekuni bidang ini dengan mengambil kursus, sekolah khusus atau mengembangkannya menjadi bisnis. Karena hobi berhubungan dengan kepuasan batin, bukan materi, kata Endang.

Baca juga: Yuk, Belajar Merias Diri dari Para Beauty Blogger Asia

Wanita kelahiran Tanjung Pinang, 10 Agustus 1975 ini, mengaku tidak memiliki latar belakang kuliner atau bekal terkait masak-memasak.

Aktivitas memasak telah menjadi kebiasaan karena sejak kecil ia sering membantu ibunya di dapur.

Memang sejak kecil saya suka membantu Ibu di dapur dan sedikit-sedikit belajar resep masakan yang sederhana. Ketika lulus kuliah dan bekerja saya mulai aktif memasak sendiri makanan sehari-hari di rumah, kata dia.

Koleksi www.justtryandtaste.com Beragam masakan Endang yang dibagi dalam blognya, www.justtryandtaste.com
Bagi Endang, berbagi resep masakan yang telah diujicobanya memberikan kepuasan tersendiri.

Saya senang jika resep yang saya bagikan disukai banyak orang, sukses dieksekusi di setiap rumah dan menjadi menu kegemaran keluarga lainnya, ujar Endang.

Apalagi, lanjut Endang, jika resep yang dibagikannya berhasil dicoba dan membuka pintu rezeki bagi orang lain.

Akan lebih senang lagi jika banyak yang memberikan testimoni, sukses menggunakan resep saya untuk berjualan. Berarti resep saya menjadi ladang rejeki untuk orang lainnya, lanjut dia.

Resep-resep yang dipraktikkan Endang dan dibagikan melalui blognya, ada yang terinspirasi dari resep sang ibu, keluarga, maupun teman-teman dekat dan internet.

6 buku resep

Endang memulai blog www.justtryandtaste.com sejak 2010. Delapan tahun berjalan, ada lebih 1.000 resep masakan dan kue yang telah dibagikannya.

Dok. Endang Indriani Food blogger Endang IndrianiKini, blog yang ia besarkan itu sudah memiliki 3.540 pelanggan konten (subscriber) dan pageviews mencapai lebih dari 86 juta.

Melalui blognya, Endang banyak menuliskan menu masakan Indonesia dan resep-resep kue.

Masakan-masakan internasional seperti masakan Korea, Jepang, Italia, Timur Tengah, juga pernah dibagikannya.

Konsistensi Endang berbagi resep dan mengelola blognya mendapatkan apresiasi ketika sebuah penerbit menawarkannya untuk menghasilkan karya sebuah buku resep.

Tawaran itu datang pada 2014. Dan, pada tahun itu, terbitlah buku perdana Endang yang berjudul "Home Cooking". Buku ini berisi 50 resep.

Setelah buku pertama ini, Endang termasuk seorang penulis buku yang produktif dengan 5 buku resep berikutnya.

Lima buku itu adalah Masakan Rumahan: Tumis, Kuah, Goreng (2015), 90 Masakan Rumahan untuk Sebulan (2015), Homemade Baking (2017), Homemade Cooking (2017), dan terakhir Homemade Cooking yang baru terbit pada awal Juni 2018.

"Saya ditawarin untuk menerbitkan buku berisi resep-resep populer yang ada blog. Jadi semua resep pada buku-buku saya kebanyakan memang dari resep yang sudah pernah saya tulis di blog," kisah Endang tentang buku-bukunya.

Dok. Endang Indriani Ragam masakan Endang Indriani melalui blognya www.justtryandtaste.com
Ia mengatakan, mereka yang mengoleksi buku-bukunya sebagian besar pembaca blognya. Dan, kehadiran buku-buku ini mendapatkan apresiasi.

"Mereka yang aktif eksekusi resep justru suka dengan buku dibandingkan digital, karena bisa diakses kapanpun," ujar dia.

Selanjutnya, Endang ingin kembali menghasilkan karya buku ketujuhnya, dengan resep-resep baking dan masakan lain yang lebih menarik. 

Berbagi waktu

Pada 2015, Endang mulai aktif di media sosial Instagram melalui akunnya, @justtryandtaste, dengan mengunggah berbagai resepnya. Hingga saat ini, pengikutnya sudah lebih dari 144.000.

Di Instagram, ia tetap berbagi resep dengan pola yang sama dengan apa yang diunggahnya di blog.

Dari sisi pembaca tentu saja resep lebih mudah diakses karena saya memberikan resep dan proses step by step detil juga di IG, ujar Endang.

Ia melanjutkan, mengunggah resep-resep di Instagram membuatnya mendapatkan lebih banyak endorsement dan paid promote.

Bolu Karamel Sarang Semut – Caramel Honeycomb Cake Bolu jadul dengan rasa karamel yang tak pernah terlindas jaman. Actually, bolu ini adalah salah satu kue kesukaan saya dan pasti dibeli kalau menemukannya di toko kue. Legit, manis dengan taste karamel yang unik. Resepnya sudah pernah dipost diblog dan saya dapatkan dari salah satu pembaca JTT Mba Novie. Kali ini saya modif dengan mengganti sebagian gula pasir dengan dark brown sugar sehingga warna bolu lebih gelap dengan rasa gurih. Plate cantik difoto dari Nuanza @nuanza_porcelain . Saya suka dengan produk cantik mereka! Sentuh gambar dan geser kekiri untuk resep dan tutorialnya ya. #jtt #justtryandtaste #jttokbanget #justtryandtastedotcom #resepjtt #resepjusttryandtaste #resepjusttryandtastedotcom #jttrecipes #foodphotography #foodporn #bolukaramel #bolukaramelsarangsemut #bolukarameljtt #nuanza

A post shared by Endang Indriani (@justtryandtaste) on Jun 25, 2018 at 8:03pm PDT

Kesempatan ini menjadi pemasukan tambahan bagi karyawan swasta sebuah perusahaan sekuritas di Jakarta ini.

Di sela kesibukannya bekerja, bagaimana Endang membagi waktu?

Ia mengungkapkan, libur pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu, dimanfaatkannya dengan memasak.

Demi menjaga konsistensi, Endang juga disiplin menetapkan target berapa artikel atau postingan di blog maupun Instagram setiap minggunya.

"Saya biasanya trial resep Sabtu dan Minggu. Saya masak beberapa masakan untuk di-post di IG dan blog. Dalam 1 minggu target saya minimal post 3 resep. Mungkin karena saya single jadi kesibukan utama saya hanya di kantor. Hanya saat weekend atau libur saja saya bisa masak. Nulis blog dan post IG sepulang kantor karena edit foto dan nulis mayan menguras waktu dibanding masaknya," kata dia.

Belajar Memasak demi Masa Depan
KOMPAS.com – Kini memasak tak hanya kegiatan sehari-hari kaum ibu. Seni memasak menarik minat berbagai kalangan, dari anak-anak hingga orang dewasa, tak peduli perempuan atau laki-laki. Apalagi berbagai tayangan di televisi sering menampilkan kiprah chef perempuan dan laki-laki. Dunia masak memasak menjadi lebih glamor dan bidang kuliner pun semakin cepat berkembang.

iah Ayu Warisista, mahasiswa Jurusan Perhotelan, Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti, Jakarta, mengatakan, sejak awal dia memilih konsentrasi di bidang tata boga. Dia pun pernah mencicipi magang dan melihat langsung bagaimana situasi dapur Hotel Sultan, Jakarta.

Saat saya magang, asyik sekali. Saya mendapat banyak ilmu dari para chef. Selain itu, saya juga banyak mendapat resep baru, ujar Ayu yang senang menekuni pastry. Ayu yakin dengan pilihannya mengembangkan diri di bidang masak memasak. Ia yakin bisa meraih masa depan cerah.

Dina Oktaviani, mahasiswa semester IV Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Persada Indonesia YAI, Jakarta, menilai, kesukaan memasak itu menyenangkan. Memadukan berbagai bahan guna menciptakan hidangan benar-benar menuntut kreativitas seseorang.

Saya belajar memasak dari Ibu, terbiasa melihat Ibu membuat masakan, membuat saya tertarik dan akhirnya bisa memasak, kata Dina. Namun, dia enggan berkarier di bidang memasak karena lebih tertarik bekerja di bidang lain.

Begitu pula Amelia, mahasiswa semester IV Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta Timur. Dia mengagumi profesi chef yang mampu membuat hidangan menjadi unik dan istimewa.

Chef itu hebat, mampu mengenal berbagai jenis dan nama bahan makanan, serta memadukannya hingga menarik. Dia juga bisa memasak berbagai makanan dari sejumlah daerah dan negara, kata Amelia.

Sama seperti Dina, Amelia tidak tertarik menjadi chef meski tahu profesi ini menjanjikan. Walau bisa memasak, Amelia enggan menekuni bidang kuliner. Dia lebih suka pekerjaan administrasi.

Pandangan serupa mengemuka dari Andriani Febriyanti, mahasiswa semester VI Jurusan Administrasi Niaga, STIA YAPPAN, Pondok Gede, Bekasi. Bagi dia, berkarier di bidang kuliner bukan pilihan dalam keluarganya.

Namun, dia senang memasak dan mampu memasak tanpa resep. Di keluarga saya, tidak ada yang memilih karier sebagai chef atau membuka restoran. Semuanya bekerja di bidang administrasi. Memasak bagi saya lebih untuk kesenangan pribadi, bukan profesi.

Peminat kursus

Untuk menampung minat mereka yang senang memasak, banyak tempat kursus bermunculan. Anak-anak pun boleh belajar memasak. Bagi mereka, umumnya kursus berlangsung pada akhir pekan atau saat liburan.

Selain itu, kursus pun terbuka bagi remaja, mahasiswa, ibu rumah tangga hingga mereka yang sudah bekerja di bidang lain. Bagi mereka, kursus memasak berguna untuk kesenangan pribadi dan demi kesenangan orang lain, seperti keluarga dan sahabat.

Apalagi di tempat kursus mereka dapat memilih kelas sesuai minat, dari yang paling dasar hingga kelas master. Ditambah lagi majalah, tabloid, dan buku resep masakan apa pun bertebaran di toko buku, mulai yang seharga Rp 5.000 hingga ratusan ribu rupiah.

Semua buku itu relatif menarik minat orang karena dilengkapi dengan gambar dan langkah pembuatan masakan. Kian lengkap lagi karena peralatan memasak pun sangat bervariasi. Itu memudahkan kita jika ingin memasak sesuatu yang khas.

Fatmah Bahalwan, pendiri komunitas memasak Natural Cooking Club (NCC), menjelaskan, acara kompetisi memasak, seperti Masterchef, membuat minat orang belajar memasak bertambah banyak. Mereka memandang kegiatan memasak sebagai hal yang menyenangkan dan tengah populer.

Belakangan ini peserta kursus tidak hanya ibu-ibu, tetapi juga mahasiswa dan siswa SMA. Biasanya peserta berusia muda suka belajar bikin cake sekaligus menghiasnya, ujar Fatmah.

NCC menyelenggarakan kursus memasak dengan pilihan berbagai macam menu masakan atau cake yang berbeda setiap hari. Satu kelas terdiri dari 10 sampai 25 peserta.

Sekitar 20 persen peserta adalah generasi muda. Mungkin karena banyak acara masak memasak di televisi sehingga anak muda tidak gengsi untuk belajar memasak, ujarnya.

Mengenai pilihan pendidikan formal atau informal untuk menekuni masak-memasak, menurut Fatmah, tergantung dari tujuan masing-masing. Memasak bisa menjadi hobi seseorang, tetapi dapat pula menjadi profesi.

Peminat kursus singkat umumnya mereka yang sebelumnya mempunyai profesi seperti dokter, insinyur, guru atau pegawai swasta yang kemudian ingin bisa memasak. Sementara pilihan pendidikan formal bagi mereka yang ingin memiliki keahlian secara profesional. Dia tak sekadar bisa memasak, tetapi paham gizi dan kandungan setiap bahan masakan, katanya.

Fatmah mengatakan, kursus dapat membantu seseorang meningkatkan kemampuannya memasak berbagai macam menu. Contohnya, untuk membuat cake dengan dekorasi menarik, peserta bisa mengikuti kursus secara bertahap, mulai kelas cake dasar sampai menghias kue.

Melihat perkembangan dunia kuliner yang cepat, Fatmah yakin profesi chef dapat menjanjikan masa depan yang lebih baik. Jika tidak menemukan lapangan kerja yang sesuai, keahlian memasak dapat kita gunakan untuk membuka usaha yang relatif tak habis diminati konsumen dari berbagai kalangan. (SIE/TIA)

Balap Rasa dalam Sepiring Lontong
KULINER khas Surabaya ini merajai sajian dari gerobak dorong hingga restoran. Mari cicipi lontong balap Surabaya. Kuahnya yang segar dan gurih berpadu sambal petis pedas menghasilkan sensasi rasa yang meriah.

Kenikmatan itu bisa dijumpai di antaranya di warung lontong balap Pak Gendut yang hadir sejak 1958. Sepiring lontong balap tersaji bersama lentho, mirip perkedel, tapi terbuat dari kacang merah. Di piring lain terhidang sepuluh tusuk sate kerang bertabur bawang goreng. Tak lupa disandingkan semangkuk kecil sambal petis udang Sidoarjo yang menguarkan aroma khas.

Lontong balap termasuk kategori makanan berat sekelas nasi meski terbuat dari bahan-bahan yang sederhana, yaitu irisan lontong, tahu goreng yang dipotong-potong, dan taoge yang hanya disiram air panas.

Campuran bahan itu kemudian disiram dengan kuah bening panas. Untuk menjaga kuah tetap panas, kuali terus dipanggang di atas tungku berbahan bakar arang yang membara. Sebelum disajikan, tak lupa ditaburkan irisan daun bawang dan bawang goreng ditambah kecap manis.

Kelezatan

Komposisi bahan yang sederhana bukan berarti tak bercita rasa. Di sinilah keunikan lontong balap. Kelezatannya ditentukan oleh kuah yang bening tapi segar dan gurih, sambal petis yang pedas, serta lentho.

Ahli waris resep masakan lontong balap Pak Gendut, Aris Taufiq, mengatakan, dirinya hanya memasak bahan-bahan pilihan yang terjaga kesegarannya. Setiap hari, putra tunggal Pak Gendut (alm) ini berbelanja bahan langsung ke pasar untuk mendapatkan bahan terbaik.

KOMPAS/RUNIK SRI ASTUTI Lontong balap. Cita rasa lontong balap juga dipengaruhi oleh teknik atau cara memasak serta peralatan yang digunakan. Kami memilih cara tradisional meski butuh proses panjang, ujar Aris.

Untuk menghasilkan kuah yang lezat, misalnya, tidak cukup mengandalkan kesegaran bumbu rempah, seperti bawang putih, bawang merah, garam, dan tambahan udang. Akan tetapi, ramuan bumbu itu harus dimasak menggunakan kuali tanah untuk menjaga cita rasa.

Penggunaan bahan bakar saat memasak juga dipertimbangkan betul karena berimplikasi pada rasa masakan. Pilihan jatuh pada arang dari batok kelapa atau arang kayu dibandingkan elpiji dan minyak tanah. Alasannya, agar aroma kuah tak terkontaminasi oleh bau gas ataupun bau asap.

Untuk melengkapi kesegaran kuah lontong balap, Aris menyediakan sambal petis udang. Tak sembarang petis dia gunakan, tetapi hanya petis dari Kabupaten Sidoarjo yang sudah tersohor. Penyajian sambal petis ini sengaja disendirikan, tidak dicampur dalam kuah, agar pelanggan bisa menyesuaikan selera pedas.

Lontong balap Pak Gendut juga terkenal berkat lentho yang murni terbuat dari kacang dan beras merah, dibumbui garam, daun jeruk, ketumbar, dan merica.

Lentho renyah hanya jika tanpa bahan campuran tepung. Cukup haluskan semua bahan plus bumbu kemudian dibentuk bulat oval dan digoreng dalam minyak yang tidak terlalu panas supaya matang merata dan tidak pecah, kata Aris.

Seporsi lontong balap bisa disantap dengan harga Rp 12.000. Jika ingin tambah sate kerang, cukup merogoh kocek Rp 12.000 per 10 tusuk. Sementara es degan bisa dinikmati dengan harga Rp 7.000 per porsi.

Lontong balap bisa disantap kapan pun. Itu sebabnya warung lontong balap di Surabaya biasanya buka dari pagi hingga malam hari.

Pak Gendut merintis jualan lontong balap pada 1958 di kawasan Wonokromo. Setelah itu berpindah dan menetap sebagai pedagang kaki lima di Jalan Kranggan, tepatnya di depan Gedung Bioskop Garuda sejak 1976.

KOMPAS/RUNIK SRI ASTUTI Sate kerang. Namun, karena kerap kena gusuran satuan polisi pamong praja, Aris memutuskan pindah lokasi berjualan ke Jalan Profesor Dr Moestopo atau depan Kantor PDAM Surabaya. Pemindahan warung semata demi kenyamanan pelanggan.

Aris memutuskan membuka cabang di Jalan Embong Malang, di Royal Plaza, dan di Jalan Ketintang Madya. Kendati sudah masuk pusat perbelanjaan modern, lontong balap tetap menjadi makanan yang merakyat. Alasan itulah yang membuat Aris tak berani mematok harga tinggi layaknya makanan lain yang dijajakan di food court. Cukup Rp 15.000 per porsi, ucapnya tersenyum.

Memang ada beberapa versi tentang sebutan lontong balap. Aris menyebut, dulu para pedagang secara berombongan suka balapan rombong seusai berjualan. Versi lain menyebut, para pedagang lontong berkuah bening ini suka saling pinjam alat memasak sehingga terkesan balapan jualan. Versi mana pun yang benar, barangkali tidak begitu penting. Yang jelas dalam sepiring lontong kita bisa menemukan perpaduan cita rasa, yang boleh jadi balapan juga…. (RUNIK SRI ASTUTI)