Icip-Icip Makanan Raja Yogya (3)
TAK pernah terlintas di benak BRAy Hj Nuraida Joyokusumo, satu saat bakal disunting pangeran Keraton Yogya. Toh, perempuan kelahiran Balikpapan 4 Oktober 1961 ini, bisa dengan cepat menyesuaikan diri dengan adat-istiadat keraton. Termasuk mempelajari tata cara, sesaji, hingga masakan kesukaan Sultan.

Setiap hari, kata Nuraida saat berbincang dengan tabloidnova.com, semua peristiwa budaya dan adat keraton yang wajib dilakukan dan dilihatnya di lingkungan keraton, Saya catat dalam ingatan. Juga kalau saya harus menemani suami menghadiri acara jamuan makan besar bersama mendiang Sri Sultan HB IX di ruang pribadinya di Gedong Jene, Keraton Yogya.

Tiap kali ada jamuan, kisahnya, selain ada makanan yang disajikan dari dapur keraton, para istri juga membawa satu set hidangan kesukaan Sri Sultan dengan warna piring yang berbeda. Nah, karena ibu mertua saya sudah meninggal, sayalah yang bertugas memasak dan mengirimkan hidangannya. Semua hidangan itu dimakan Sri Sultan meski sedikit-sedikit. Ida pun masih ingat, HB IX maksimal hanya makan 7 suapan setiap kali makan.

Dari hanya mencatat di ingatan, ibu tiga anak ini tergerak mengumpulkan resep-resep masakan, minuman, dan kudapan kesukaan ayah mertuanya. Nara sumber saya, para abdi dan sesepuh keraton yang paham betul soal masakan kesukaan Sultan. Para abdi, kan, rutin menyediakan makanan kesukaan Sultan. Mulai dari masakan kesukaan Sultan HB I hingga Sultan ke-IX.

Menu untuk harian, jelas Ida, berbeda dengan menu untuk acara ulang tahun harian yang jatuhnya setiap 35 hari. Ada pula masakan untuk acara ulang tahun yang jatuh setiap tahun dan masakan yang dimasak masing-masing istri Sultan. Semua itu dilakukan secara turun-temurun dan tak pernah ada dokumentasi tertulisnya. Saya pikir, sayang sekali kalau tak didokumentasikan.

Kini, sudah dua judul buku resep masakan khas keraton diselesaikan Ida. Yang satu tentang kue-kue unik, lainnya tentang warisan kuliner keraton. Hampir semua jenis masakan atau kue di keraton ada ceritanya.

Ada beberapa masakan keraton yang sebenarnya juga sudah familiar di tengah masyarakat. Misalnya gudeg. Tetapi gudeg kesukaan Sultan beda dengan gudeg yang dikenal masyarakat. Bedanya, gudeg kesukaan Sultan rasanya gurih. Nangka mudanya dipotong besar-besar.

Lalu ada pula nasi blawong, yaitu nasi yang dimasak dengan rempah-rempah. Karena hidangan ini khusus disajikan untuk Sultan, di buku saya tidak saya cantumkan resepnya.

Untuk menyusun semua resep masakan, kue, dan minuman kesukaan Sultan, Ida mengaku memerlukan waktu cukup lama. Untuk mendata saja, sekitar dua tahun. Ada sekitar 100 resep tapi belum bisa semuanya dipublikasikan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *