Bangkitkan spirit kerakyatan lewat masakan khas nusantaraKuliner nasional mampu menumbuhkan spirit kerakyatan karena citarasa masakan khas nusantara. Hal itulah yang dirasakan Hasto Kristiyanto saat ‘mudik’ke kampung halamannya, di Sleman, Yogyakarta.

BERITA TERKAIT
Hasto ungkap ‘The Power of Salaman’ ala Jokowi ke Caleg PDIP
Ajak bahu-membahu, Koalisi Jokowi hentikan politisasi pelemahan rupiah
Sandiaga setuju 3 Oktober jadi Hari Antihoaks Nasional

Sekjen PDIP tak pernah absen bertandang ke Kuliner Terminal Condong Catur yang berada di Sleman. Sebab, di sana disuguhkan aneka makanan khas tradisional. Diantara yang menjadi langganan Hasto adalah Bakmi Jawa Miroso milik Bu Karno dan Oseng Mercon yang dikelola Bu Kiki.

Bakmi Jawa Miroso menjadi langganan Hasto semenjak duduk di bangu kuliah. Letaknya di Jalan Anggajaya, Gejayan, Condongcatur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman.

“Bakmi Jawa ini sudah saya gemari sejak mahasiswa, waktu itu harganya satu porsi Rp350, dan sekarang di samping Bakmi juga ada Oseng Mercon, osengan tempe dan kerang yang superpedas,” kata Hasto, disela menyantap Bakmi Jawa Miroso, masakan Bu Karno.

Hasto yang didampingi Rahmat Sahid, caleg PDI Perjuangan untuk daerah pemilihan Jawa Tengah VII (Kabupaten Kebumen, Purbalingga, Banjarnegara) mengatakan, setiap kali menyantap kuliner tradisional selalu ingat pada upaya Bung Karno yang pada tahun 1960-an mengumpulkan berbagai resep masakan nusantara. Resep masakan itu kemudian menjadi warisan Bung Karno dalam bentuk buku Mustika Rasa, yang diterbitkan pada tahun 1967.

“Saya juga selalu ingat pesan dari Ibu Megawati agar dalam masalah makanan pun, perut kita tidak boleh dijajah oleh makanan impor. Karena kita itu punya begitu banyak resep masakan seperti yang tertuang dalam Buku Mustika Rasa, yang dari citarasa dan kekayaan bumbunya begitu luar biasa sehingga bercitarasa sempurna,” ungkap Hasto.

Sementara itu, Bu Karno, yang sudah berjualan Bakmi Jawa sejak tahun 1986 mengungkapkan, Hasto memang salah satu pelanggan setianya sejak masa kuliah.

“Sampun awit riyen mas, nek tindak Yogyakarta Pak Hasto mesti mampir mriki dahar bakmi (sudah sejak dulu mas, kalau ke Yokyakarta Pak Hasto pasti mampir sini makan bakmi),” bebernya.

Saking seringnya mampir, Hasto akan dicari-cari oleh Bu Karno ketika tak berkunjung ke tempat ia mangkal dalam waktu lama.

Ketika mampir ke warung bakmi Bu Karno, Hasto juga selalu pesan setidaknya 5 bungkus bakmi goring dan bakmi rebus, untuk dibawanya pulang. Di area tempat kuliner itu, Hasto memang cukup dikenal karena sering mampir makan ketika pulang ke Sleman. Karenanya, ketika hasto datang, pedagang kuliner di tempat itu begitu antusias.

Di samping itu, Hasto mengungkap nama sang penjual bakmi, Bu Karno mengingatkan akan nama Bung Karno. Praktis, terbesit pula dibayangan Hasto goretan sejarah yang ditinggalkan sang Prokalamator.

“Indonesia yang begitu kaya, dengan aneka makanan yang luar biasa dan tidak ada satu pun negara memiliki keanekaragaman dan kesempuranaan bumbu makanan selengkap Indonesia. Kami memimpikan muncul para ahli peneliti boga dan ahli gizi untuk menggelorakan nasionalisme dari makanan Indonesia.” [rhm]

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *